Do’aku Dikala Ragu Akan Dirinya

Ya Allah…
Seandainya telah Engkau catatkan
dia akan mejadi teman menapaki hidup
Satukanlah hatinya dengan hatiku
Titipkanlah kebahagiaan diantara kami
Agar kemesraan itu abadi
Dan ya Allah… ya Tuhanku yang Maha Mengasihi
Seiringkanlah kami melayari hidup ini
Ke tepian yang sejahtera dan abadi

Tetapi ya Allah…
Seandainya telah Engkau takdirkan…
…Dia bukan milikku
Bawalah ia jauh dari pandanganku
Luputkanlah ia dari ingatanku
Ambillah kebahagiaan ketika dia ada disisiku

Dan peliharalah aku dari kekecewaan
Serta ya Allah ya Tuhanku yang Maha Mengerti…
Berikanlah aku kekuatan
Melontar bayangannya jauh ke dada langit
Hilang bersama senja nan merah
Agarku bisa berbahagia walaupun tanpa bersama dengannya

Dan ya Allah yang tercinta…
Gantikanlah yang telah hilang
Tumbuhkanlah kembali yang telah patah
Walaupun tidak sama dengan dirinya….

Ya Allah ya Tuhanku…
Pasrahkanlah aku dengan takdirMu
Sesungguhnya apa yang telah Engkau takdirkan
Adalah yang terbaik buatku
Karena Engkau Maha Mengetahui
Segala yang terbaik buat hambaMu ini

Ya Allah…
Cukuplah Engkau saja yang menjadi pemeliharaku
Di dunia dan di akhirat
Dengarlah rintihan dari hambaMu yang daif ini


Jangan Engkau biarkan aku sendirian
Di dunia ini maupun di akhirat

Menjuruskan aku ke arah kemaksiatan dan kemungkaran
Maka kurniakanlah aku seorang pasangan yang beriman
Supaya aku dan dia dapat membina kesejahteraan hidup
Ke jalan yang Engkau ridhai
Dan kurniakanlah padaku keturunan yang soleh

Amin… Ya Rabbal ‘Alamin

Kaya untuk Kaya

Aku baca lembar per lembar buku temanku yang aku pinjam tak sengaja. Mengharu biru, menggebu, penuh penaklukan. Penulis itu membuatku kuyu disemprot guyuran pesan. Penulis yang telah menaklukan kegagahan monument ketidakmungkinan untuk memperoleh sesuatu.. Aku bahkan telah digaet untuk mencoba terlibat dalam perjalanannya. Sarat keabadian.

Ketika membaca, aku seperti mengganda menjadi dirinya. Hatiku diperas, asaku dicambuk berkali-kali untuk berusaha seperti dirinya. Dualisme ‘kaya’ membelah diri yang berarti; seperti, mirip, atau persis. Mentalku mengikatkan pada kamuflase perjalanannya. Layaknya joki limbung yang terjatuh, lalu digusur oleh kuda yang berlari kencang. Berusaha bangkit lalu mengejar!. Aku sadar posisiku jauh dibawah lantai pengalaman dan prestasinya. Aku sadar, aku telah melakoni nyanyian yang sering dinyanyikan Ahmad Albar, sandiwara untuk seperti.

episodeku kali ini mungkin awal cerita dari banyak scene yang ditulis Sutradara. Penuh rintangan, kesedihan, dan berakhir dalam samudra bintang gemintang kesuksesan. Pikirku yang sinetron berat. Bahkan aku sedang mengibas kemungkinan yang muncul mematahkan pikirku tadi. Namun tetap tidak bias disangkal. Film lain seolah membentuk barisan, merubuhkan kemungkinan akhir kesuksesan itu. Memberi pelajaran dengan kejahatan atau mati untuk ketentraman. Film Nomad the Warior semakin menegaskan penaklukan membiaskan bintang gemintang itu. Film itu memuntahkan kembali kemenangan yang kutelan bulat-bulat. Aku khawatir terperosok untuk memerankan tokoh-tokoh yang menjadi pahlawan, kala dirinya ditakdirkan menjadi lawan untuk menopang kedigdayaan sang teman. Tragis.

Aku getir meneropong akhir dari perjalanan yang penuh misteri ini. Penentuan hari H. asaku melompat, menyundul-nyundul untuk jiwa yang terkulai. Malas. Rasanya hanya dewi fortuna yang akan mengangkat derajat itu. Melihat kondisiku, semua orang sepertinya sepakat dengan madzhab kebanyakan. No pain, no gain. Guncangan-guncangan wujud kesuksesan terus membayangiku dari berbagai arah. Lembut tapi mematikan. Killing me softly.

Tapi aku patut bersyukur dengan biusan yang hampir membuatku gila itu. Aku semakin hidup seperti yang seringkali aku lihat dan dengar pada iklan rokok. Aku semakin merasakan saripati hidup. Ujian berkelas yang aku terima. Kendati ujian itu masih jauh dibawah para sahabat ketika perang Uhud yang harus menggadaikan nyawa, harta, dan orang-orang yang dicintanya, namun aku merasakan ujian itu merayap pada posisi peperangan luar biasa itu. Peperangan yang terjadi dalam batin. Pergumulan dan pertempuran yang menyiksa.

Yang membuat aku lebih tersiksa adalah, ketika aku teringat sebuah kisah yang masih hafal betul dimana orang itu bercerita, dalam posisi bagaimana, dan mimik yang seperti apa. Orang itu tidak lain adalah guruku sewaktu SMP. Perawakannya kurus dengan jalan mendayu kaku. Kepalanya sudah dilumuri uban. Matanya terhijab kaca tebal membantu dirinya membaca buku yang digenggam karena tasnya tidak menerima kedatangan buku berukuran gemuk.

Sebut saja namanya Pak Harun. dia bertutur berapi-api. Walau aku tidak dapati dia seperti para mahasiswa yang berorasi di depan mulut kantor pejabat, tapi auranya memancarkan semangat membabi buta. Ia mengisahkan seorang pelajar yang berniat menjaili guru galaknya. Niat menjaili berubah malapetaka. Mesin pemotong tubuh yang tidak begitu jelas aku deskripsikan seperti apa, telah merobek fikirannya. Disinyalir ia meninggal karena guru itu merasa, akhir hayatnya akan berakhir tercincang seperti daun saledri teriris kecil-kecil. Nyatanya tidak demikian, mesin tersebut sedikitpun tidak menyentuh tubuhnya. Kepalang fikirannya melampui keadaan, menyerah, alhasil guru itu tewas mengenaskan. Naas.

Pelajaran pertama, sungguh murid yang tidak memuliakan gurunya. Pelajaran kedua, dahsyatnya imajinasi fikiran. Kisah itu semakin menakut nakutiku. Ditengah perang batin berkecamuk membakar fikiran, kisah sarat nasihat itu seolah meriam yang datang memporakporandakan batinku. Jika aku tidak bisa menaklukan peperangan itu, kalau tidak mati berkeping-keping, minimal musuh yang entah dari kerajaan mana, akan tertawa menang sambil mengibarkan panjinya melihat keadaanku yang lusuh, compang-camping, tertawa tanpa sebab di emper jalan. Menghinakan.

Rupanya aku masih bisa merasakan beban yang bagi sebagian orang tidak begitu difikirkannya. Bahagia dengan posisi dan keadaannya. Seperti kupu-kupu yang hanya menari nari diatas bunga indah berwarna warni untuk dihisap saripatinya. Begitulah ia lakukan sehari-harinya. Tidak berusaha menanam atau dibekal hanya sekedar memberikannya kepada kupu-kupu lain yang sedang kesusahan. Pengaduanku kali ini tidak lebih dari harapan ‘kaya’ yang berarti berjejalnya semua bentuk kesuksesan. Semangati diri.

Aku Mencintainya

Ya Allah aku mencintainya!
Ya Allah, aku tahu Kau pasti mendengar degup jantungku tiap ku bertemu dengannya

Ya Allah, aku tahu Kau pasti mengetahui isi hatiku tiap ku bertatap dengannya

Ya Allah, aku tahu kau pasti mengetahui betapa wajah dan senyumannya begitu menggetarkan hati ini
ya Allah, jika benar aku mencintainya maka buatlah aku layak baginya dan jadikan aku hamba-Mu yang shalehah dan selalu taat pada-Mu hingga ketika kau mendengar dan mengetahui isi hati ini maka mantap hatiku jika benar aku mencintainya maka aku mencintainya karena-Mu

Hello world!

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.